Anakku Bertanya Soal Namanya : Dihya Khalifa

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : google

Anak lelakiku bertanya tentang namanya. Dihya Khalifa, itu nama yang aku berikan sejak ia lahir. Nama itu bahkan sudah sering aku gunakan sebagai “nama pena” ketika mengirim tulisan di berbagai majalah Islam sejak dia belum lahir.

Ia merasa ada yang kurang pas dari namanya, karena sering dikira nama perempuan. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, nama Dihya itu dekat dengan Diyah atau Dyah yang merupakan nama perempuan. Padahal sejak awal aku sengaja menghilangkan huruf “h” yang mestinya ada pada kata “Dihyah”, transliterasi ke dalam bahasa Indonesia sangat luwes sehingga aku tulis tanpa huruf “h” di belakang, menjadi Dihya. Karena jika ditulis dengan Dihyah –dengan huruf h—semakin dekat dengan Diyah, yang mudah dikira nama perempuan.

Demikian pula nama Khalifa, ini masih dianggap dekat dengan nama perempuan. Dalam transliterasi juga sudah aku hilangkan huruf “h” yang mestinya ada pada kata “khalifah”, karena lazimnya “ta’ marbuthah” digunakan sebagai nama perempuan. Tulisannya menjadi Khalifa, tanpa huruf “h” di belakang. Ini juga untuk menghilangkan kesan bahwa itu nama perempuan.

Sekarang setelah kelas 4 SD ia mulai merasa risih oleh teman-temannya yang kadang meledek, namanya seperti nama perempuan. Ia ingin ada nama tambahan yang lebih menegaskan bahwa namanya adalah benar-benar laki-laki. Aku menyetujui, maka kami bersepakat namanya ditambahi “Muhammad”, agar semua orang tahu bahwa dia adalah seorang lelaki yang berusaha meneladani Nabi agung Muhammad Saw.

Anakku bertanya, sebenarnya darimana asal nama Dihya Khalifa ? Bahkan banyak gurunya tidak tahu itu nama apa.

gambar : google

Dihyah bin Khalifah Al Kalby, Sahabat Nabi yang Istimewa

Dihya Khalifa, nama itu sesungguhnya adalah nama sahabat Nabi Muhammad Saw. Nama lengkap sahabat tersebut adalah Dihyah bin Khalifah Al-Kalby. Nama dirinya adalah Dihyah, dan nama bapaknya adalah Khalifah.

Dihyah bin Khalifah Al-Kalby adalah salah satu di antara para sahabat Nabi Saw yang telah masuk Islam sebelum terjadinya perang Badar. Dia adalah salah seorang sahabat Nabi yang dikaruniai keutamaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya. Di antara keutamaan yang dimiliki Dihyah adalah, malaikat Jibril seringkali datang menemui Nabi Saw dalam wujud menyerupai dirinya.

Sebagaimana keterangan Imam An-Nasa’i yang meriwayatkan dari Yahya bin Ya’mur dari Ibnu Umar, bahwa malaikat Jibril mendatangi Nabi Saw dalam rupa Dihyah Al-Kalby. Demikian pula ’Awwanah bin al-Hakam pernah berkata, “Manusia yang paling tampan rupanya, ialah seseorang yang Malaikat Jibril As datang dalam bentuk rupanya; yakni Dihyah”.

Nabi Saw bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi, maka aku melihat Musa adalah seorang laki-laki yang kuat, seakan-akan dia adalah lelaki dari kaum Syanu’ah. Dan aku melihat Isa bin Maryam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat, adalah Urwah bin Mas’ud. Dan aku melihat Ibrahim, dan yang paling mirip denganya di antara yang pernah aku lihat ialah sahabat kalian –yaitu diri beliau sendiri—dan aku pun melihat Jibril, dan yang paling mirip dengnanya di antara yang pernah aku lihat adalah Dihyah” (HR.Muslim).

Dari Abu Utsman, ia berkata, “Telah diberitakan kepadaku bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw dan Ummu Salamah sedang bersama beliau. Maka, dia pun berbicara lantas berdiri, sehingga Nabi Saw pun berkata kepada Ummu Salamah, ‘Siapakah Ini?’ – atau seperti ucapan beliau – lantas Ummu Salamah pun berkata: ‘Ini adalah Dihyah’. Ummu Salamah berkata, ‘Demi Allah, sungguh aku mengira, ia adalah Dihyah, sampai aku mendengar khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan bahwa dia adalah Malaikat Jibril’.”

Ketika Nabi Saw mengirimkan surat-surat seruan untuk memeluk Islam kepada para raja dan kaisar, pada akhir tahun ke enam hijriah, Dihyah termasuk salah satu delegasi yang ditugaskan. Ia mendapatkan tugas menyampaikan surat Nabi Saw kepada kaisar Romawi, Hiraklius.

Sebuah riwayat dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah Saw menulis surat kepada kaisar untuk mengajaknya masuk Islam. Beliau mengutus Dihyah Al-Kalby untuk menyampaikan suratnya. Rasulullah Saw meminta Dihyah supaya menyerahkan surat tersebut kepada penguasa kota Bushra, agar ia menyampaikannya kepada kaisar.

Ibnu Katsir menyebutkan di dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, sepulang dari menemui kaisar, Dihyah mendapatkan hadiah yang banyak dari kaisar . Ketika sampai di daerah Hisma, ia dihadang oleh sekelompok orang dan mereka pun mengambil semua yang ada padanya. Maka Nabi Saw mengutus Zaid bin Haritsah untuk memerangi para perampok tersebut..

Pada masa hidupnya, Dihyah tinggal di daerah Mizzah di Damaskus, hingga sampai masa kekhilafan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

dihya khalifa

Apalah Arti Sebuah Nama ?

Ternyata sangat berarti. Nama sangat berpengaruh pada jiwa anak-anak kita. Nama adalah doa dan pengharapan, nama juga kebanggaan dan jati diri. Maka aku beri nama anakku Dihya Khalifa, agar menjadi seorang manusia istimewa yang berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa, bangsa, dan negara. Agar menjadi manusia yang mencontoh kebaikan Dihyah bin Khalifah Al-Kalby, seorang sahabat Nabi Saw.

What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet, kata William Shkespeare. Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum. Menurut saya, kalimat ini tidak menunjukkan tidak pentingnya nama, namun lebih kepada sesuatu yang lebih esensial. Yaitu seseorang akan dinilai dengan perbuatannya, dengan amal, dengan karya dan kinerjanya, tidak semata-mata dengan namanya.

Tentu aku berharap anakku Dihya Khalifa memiliki amal kebaikan dan karya positif yang kontributif untuk perbaikan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Walaupun ia disebut dengan nama lain, atau nama panggilan apapun, ia akan tetap seorang yang memiliki amal kebaikan dan kontribusi positif dalam perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Semoga.

Sumber : http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1877

Anakku Bertanya Soal Namanya : Dihya Khalifa | admin | 4.5